sorotcelebes.com | JAKARTA — Serikat Nasional Akademi Sulawesi Barat (Sandek) menuding Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sulawesi Barat menjalankan proyek pembangunan asrama mahasiswa di Jakarta tanpa arah yang jelas dan mengabaikan aspirasi mahasiswa.
Pembangunan lanjutan asrama mahasiswa Sandek Sulbar di Ibu Kota itu menuai sorotan. Mahasiswa menyebut pekerjaan konstruksi berjalan secara tertutup, tanpa pelibatan mereka sebagaimana arahan resmi Wakil Gubernur Sulbar, Salim S. Mengga.
“Kami kecewa. Pembangunan sudah berjalan hampir tiga minggu, tapi mahasiswa tidak pernah dilibatkan. Bahkan, kami baru tahu setelah pekerjaan dimulai,” ujar Jepry, mahasiswa Sulbar di Jakarta, Rabu, (03/09/2025).
Jepry menegaskan bahwa arah kebijakan semestinya mengacu pada rapat resmi bersama Wakil Gubernur yang digelar di Mess Penghubung Sulbar Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam rapat itu, Wagub menegaskan pentingnya pelibatan mahasiswa pada tiap tahap pembangunan, sebagai upaya menghindari konflik desain dan kesalahan fungsional seperti pada pembangunan tahap pertama.
“Tapi hari ini, fakta di lapangan jauh dari semangat kolaborasi itu,” ucap Jepry.
Mahasiswa yang melakukan kunjungan langsung ke lokasi proyek mengaku bertemu dengan pihak pengawasan dan konsultan perencana. Hasilnya, mereka menemukan ketidaksesuaian signifikan antara rencana awal dan eksekusi pembangunan. Fasilitas yang sedang dibangun hanya mencakup kamar tidur, toilet, dan dapur, sementara aula kegiatan mahasiswa justru berukuran sempit, setara dengan ukuran kamar tidur.
“Itu jelas tidak mencerminkan kebutuhan mahasiswa. Asrama bukan sekadar tempat tidur, tapi rumah ekspresi dan kaderisasi,” tambahnya.
Eks Bendahara Umum HMI Cabang Depok itu juga menyayangkan lemahnya pengawasan, padahal sebelumnya sejumlah tokoh sudah menyatakan komitmen mendampingi proses ini. “Pak Wagub Salim S. Mengga dan Kakanda Samsul Samad sempat berjanji mengawal pembangunan ini. Tapi begitu anggaran cair, Dinas PU seolah hanya berorientasi pada proyek, bukan kebutuhan,” katanya.
Menurut Jepry, substansi perjuangan membangun asrama mahasiswa di Jakarta tidak bisa direduksi menjadi deretan fasilitas fisik semata.
“Asrama ini adalah ruang hidup mahasiswa Sulbar di Jakarta. Di sinilah kami tumbuh, berkarya, berdiskusi, membentuk gagasan, bahkan memperjuangkan masa depan daerah kami. Kalau hanya dibangun dengan toilet, dapur, dan kamar tidur, itu artinya ada kegagalan memahami esensi rumah kaderisasi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas PUPR Sulbar belum memberikan keterangan resmi atas tudingan tersebut.











