sorotcelebes.com | MAJENE — Hamparan bukit dan lembah yang membentang di Desa Popenga, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, kini perlahan mulai berubah wajah. Di bawah komando Penjabat (Pj.) Kepala Desa, Rahmat Basri, suara mesin Excapator menggantikan sunyi hutan semak. Program percetakan sawah yang mereka gagas sejak awal 2024 itu, kini mulai menampakkan hasil.
Popenga bukan desa kecil. Dengan wilayah terluas di Kabupaten Majene, potensi lahan tidur di desa ini menjadi daya tarik tersendiri bagi program ketahanan pangan. Maka tak heran jika pemerintah desa memilih untuk menyasar sektor pertanian sebagai ujung tombak pembangunan. “Ini bukan sekadar proyek, ini soal perut rakyat,” kata Rahmat kepada wartawan. Selasa (09/09/2025).
Program ini tak main-main. Tahun 2024, Pemerintah Desa Popenga menggelontorkan anggaran Dana Desa (DD) sebesar Rp852 juta khusus untuk percetakan sawah. Anggaran itu digunakan untuk membuka lahan pertanian baru bagi warga yang selama ini hanya mengandalkan ladang tadah hujan. Namun, dana sebesar itu belum cukup untuk memenuhi seluruh target.
Dari total 350 Kepala Keluarga (KK) yang menjadi sasaran, dana tahun ini baru mampu menjangkau 173 KK. Sisanya, sebanyak 167 KK, harus menunggu alokasi anggaran tahun berikutnya. “Kami sudah tetapkan, 2025 akan jadi tahun penyelesaian. Targetnya, Desember sudah rampung 100 persen,” ujar Rahmat dengan yakin.

Rinciannya, pada tahap pertama, lahan sudah dibuka di lima dusun: Popenga, Tanete, Batu Lotong, Baba Lombi, dan Pewarugaan. Warga di dusun-dusun ini kini mulai mengenal lumpur sawah dan irigasi sederhana.
Adapun empat dusun lainnya yakni Urekang, Batang Nato, Pullau, dan Salu Maratte masih menunggu giliran. Namun proses pendataan dan survei lahan telah dilakukan. Bahkan di beberapa lokasi, pengerjaan pembukaan lahan sudah dimulai secara bertahap. “Yang jelas kita tidak ingin buru-buru tapi juga tidak lambat,” kata Rahmat.
Program ini, menurut Rahmat, juga bagian dari sinergi dengan agenda nasional. Ketahanan pangan bukan lagi slogan, tapi kebutuhan mendesak. Terlebih dalam situasi global yang fluktuatif, desa-desa seperti Popenga perlu mandiri secara pangan. “Bila kami bisa menanam padi sendiri, itu berarti kami bisa bertahan,” ujarnya.

Di atas kertas, Desa Popenga memiliki ribuan hektare lahan potensial. Tapi selama bertahun-tahun, banyak di antaranya dibiarkan tak tergarap karena keterbatasan akses, alat, dan sumber daya manusia. Percetakan sawah menjadi jembatan antara potensi dan realisasi. “Ini langkah awal untuk kedaulatan pangan desa,” kata Rahmat.
Namun, tantangan tetap ada. Akses jalan yang sulit, curah hujan tidak menentu, serta kontur tanah berbukit membuat proses percetakan tidak bisa dilakukan secara seragam.
Meski begitu, optimisme tumbuh. Warga kini mulai menanam varietas padi lokal di lahan baru. Hasil panen belum sepenuhnya diketahui, tapi semangat sudah terasa. Anak-anak pun mulai diajak ke sawah, mengenal lumpur dan benih. “Ini bukan hanya soal beras, ini soal warisan,” ujar seorang warga Dusun Pewarugaan, Desa Popenga.
Dana Desa pun dipantau ketat. Transparansi menjadi bagian dari strategi penguatan kepercayaan publik. Di papan informasi desa, setiap progres ditampilkan lengkap dengan jumlah anggaran dan capaian. “Kami tidak ingin proyek ini dicurigai. Ini uang rakyat, harus kembali ke rakyat,” kata Rahmat.
Pada tahun 2025, Rahmat menargetkan tak hanya penyelesaian fisik sawah, tapi juga penguatan kelembagaan tani. Kelompok-kelompok tani akan dibentuk, diberi pelatihan, serta difasilitasi untuk mengakses program pertanian lainnya. “Sawah ini harus produktif. Jangan selesai dicetak lalu terbengkalai,” ujarnya.
Pemerintah kabupaten pun mulai melirik Popenga sebagai model. Beberapa desa tetangga disebut-sebut tertarik meniru langkah ini. Namun Rahmat tetap fokus menyelesaikan rumah tangganya sendiri terlebih dahulu. “Satu desa kuat lebih baik daripada sepuluh desa setengah jadi,” katanya.
Jika semuanya sesuai rencana, maka pada akhir 2025, Desa Popenga akan memiliki ratusan hektare sawah baru yang menyuplai pangan lokal secara mandiri. Bukan mustahil jika desa yang dulu terabaikan itu, kini menjadi contoh nyata bagaimana Dana Desa bisa mengubah tanah kosong menjadi ladang harapan.













Maaf sebelumnya. Membuat sebuah media berita online, tentu menjadi sebuah trans paransi yg sangat bagus di saman modernisasi saat ini. Namun di berita kali ini sepertinya saya menyoroti terkair keterangan dalam berita ini. Bahwa ditahun 2024 hanya 2 dusun yg dikerjakan itupun tidak tuntas, masih ada KK yang belum dikerjakan.
Jadi informasi yg dimuat dalam berita ini bisa dikatakan sebagai berita bohong. Karna setau saya hanya 2 dusun yg dikerja di tahun 2024.
Anggaran 852 juta untuk 350 KK, kenapa di LPJkan 2024 kalau ini sudah selesai kalau nyatanya masih ada yang belum dikerjakan? Logikqmu dimana Pak desa???
Media juga hati-hati menulis, kalau tidak lakukan kroscek kebenaran ke langsung ke desa.
Harus tau UUd Pers, ada Kode Etik Jurnalistik.
Hahahahaha