MAJENE  

Terjadi Lagi, Jenazah Harus Ditandu 7 Kilometer Akibat Jalan Rusak di Majene

sorotcelebes.com | MAJENE — Ketika mentari mulai tenggelam di ufuk barat, tubuh lemah Darmin, seorang warga Dusun Limboro Utara, Desa Limboro Rambu-Rambu, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulbar terbaring kaku di atas tandu sarung yang dipanggul bergantian oleh kerabat dan tetangganya.

Ia telah tiada. Dan di tengah duka yang pekat, warga harus menempuh perjalanan panjang sejauh tujuh kilometer, menembus jalan tanah yang rusak dan licin, demi membawa jasadnya pulang ke rumah duka.

Baca Juga  Ratusan Juta Rupiah Perjalanan Dinas Kominfo Majene Diduga Fiktif

Darmin yang akrab disapa Bapak Risal mengembuskan napas terakhir di RSUD Majene pada Sabtu, 6 September 2025, sekitar pukul 17.00 WITA. Ia sempat dilarikan ke Puskesmas Sendana I di pagi hari, lalu dirujuk ke rumah sakit. Namun takdir berkata lain.

“Beberapa hari sebelumnya, beliau sempat mengeluh sakit di pinggang dan juga sesak napas,” ujar Alimuddin, salah satu keluarga almarhum. Penyebab pasti kematiannya belum diketahui hingga kini.

Baca Juga  Adolang Dhua Gelar Musyawarah Desa Khusus, Bahas Persetujuan Dukungan Pengembalian Pinjaman Kopdes

Namun yang paling menyakitkan bagi mereka bukan hanya kehilangan seorang keluarga, melainkan kenyataan bahwa jasadnya tak bisa diantar menggunakan ambulance. Jalan menuju Dusun Limboro Utara, Desa Limboro Rambu-Rambu rusak parah. Ambulance tak mampu melintasinya.

Ini bukan pertama kali warga harus menandu orang sakit atau jenazah sejauh itu. “Hampir setiap kali ada yang sakit parah atau meninggal, kami harus tandu. Kalau hujan, lebih parah lagi,” keluh seorang warga yang ikut membantu pemulangan jenazah.

Baca Juga  Gerakan Kembali Bersekolah, 140 Anak Putus Sekolah di Majene Mengenyam Pendidikan

Masyarakat Dusun Limboro Utara, Desa Limboro Rambu-Rambu kini hanya bisa berharap, agar suara mereka didengar pemerintah. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, justru menjadi duka yang berulang. Mereka menanti janji pembangunan yang tak kunjung datang, sementara satu demi satu warga harus melewati “perjalanan terakhir” di atas tandu, bukan Ambulance.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *