sorotcelebes.com | MAJENE — Sikap tertutup dan tidak kooperatif ditunjukkan salah seorang pejabat penting di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene terhadap awak media.
Sejumlah wartawan yang hendak melakukan konfirmasi terkait progres pekerjaan dan isu layanan rumah sakit justru merasa dipingpong dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Rabu, (31/12/2025).
Kejadian bermula ketika seorang wartawan mencoba menghubungi Kepala Bidang Perencanaan RSUD Majene melalui pesan WhatsApp untuk meminta klarifikasi.
Alih-alih mendapatkan penjelasan, wartawan tersebut justru diarahkan untuk menemui Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Majene.
Namun, upaya konfirmasi itu kembali menemui jalan buntu. Melalui seorang staf, Plt Direktur disebut sedang sibuk dan wartawan diminta menemui Kabid Perencanaan bernama Bobby.
“Pak Direktur lagi sibuk, temui saja Pak Bobby,” ujar salah seorang staf RSUD Majene kepada awak media.
Situasi itu menimbulkan kesan seolah-olah ruang konfirmasi sengaja dikunci. Sejumlah wartawan yang sudah berada di area parkiran RSUD Majene hanya menunggu tanpa kepastian, hingga akhirnya merasakan perlakuan yang dinilai tidak pantas dari pejabat rumah sakit.
Tak berselang lama, Bobby muncul di lokasi area parkiran. Namun, sikap yang ditunjukkan justru memicu ketegangan. Dengan nada emosional dan kurang bersahabat, pertemuan tersebut berujung cekcok di area parkiran RSUD.
Sejumlah wartawan menilai sikap Kabid Perencanaan RSUD Majene itu berlebihan dan tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik. Perilaku tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip transparansi dan semangat keterbukaan informasi publik yang seharusnya dijunjung tinggi oleh institusi pelayanan masyarakat.
Tindakan itu juga dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Undang-undang tersebut menjamin hak masyarakat untuk mengetahui proses, kebijakan, serta kegiatan yang menggunakan anggaran publik, termasuk yang berlangsung di RSUD Majene.
Kebutuhan akan keterbukaan itu dinilai semakin mendesak, mengingat dalam beberapa bulan terakhir RSUD Majene ramai diperbincangkan publik. Isu yang mencuat mulai dari progres pekerjaan proyek, kualitas pelayanan, hingga kesiapan obat-obatan.
“Kedatangan kami untuk mengonfirmasi sejumlah isu yang berkembang, mulai dari pekerjaan proyek, pelayanan, sampai kesiapan obat-obatan di RSUD,” ujar Subhan, wartawan Karabao.id.
Ia menegaskan, sikap pejabat RSUD Majene tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, perlu ada pembinaan serius dari Pemerintah Kabupaten Majene, termasuk Bupati dan Wakil Bupati.
“Sikap dan karakter pejabat publik menjadi cerminan dalam memastikan roda pelayanan berjalan dengan baik serta menjauhkan institusi dari praktik-praktik yang tidak dibenarkan,” tegas Subhan.











