sorotcelebes.com | MAJENE – Kerusakan parah pada ruas jalan ulumanda penghubung popenga–Salutambung yang terjadi sejak pertengahan Mei 2026 hingga saat ini belum mendapatkan penanganan yang memadai dari Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi. Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat dan mahasiswa karena jalan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan wilayah Ulumanda dengan pusat pelayanan pemerintahan, kesehatan, pendidikan, dan perekonomian.
Akibat hujan deras yang terjadi pada 14 Mei 2026, ruas jalan mengalami retakan di sejumlah titik, tergerus longsor, bahkan sebagian badan jalan menggantung di bibir jurang. Hingga lebih dari satu bulan berlalu, belum terlihat langkah konkret yang mampu mengatasi kerusakan tersebut secara menyeluruh. Warga kini terpaksa melintasi jalan dengan risiko tinggi, sementara ancaman longsor susulan masih terus membayangi, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Mahasiswa menilai lambannya respons pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi menunjukkan lemahnya komitmen dalam menjamin hak masyarakat atas infrastruktur yang aman dan layak. Sebagai jalan yang memiliki peran strategis bagi mobilitas masyarakat, seharusnya penanganan dilakukan secara cepat melalui langkah-langkah darurat, bukan hanya sebatas peninjauan atau penyampaian janji.
“Kami sangat menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan lamban dan kurang responsif terhadap kondisi ini. Jalan Ulumanda–Salutambung bukan sekadar fasilitas umum, tetapi merupakan urat nadi kehidupan masyarakat. Keterlambatan penanganan berpotensi menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, bahkan dapat mengancam keselamatan masyarakat apabila terjadi longsor susulan,” ujar Muhammad Syukur, aktivis mahasiswa ulumanda. Rabu, (01/07/2026).
Mahasiswa juga mengkritik minimnya transparansi pemerintah terkait rencana penanganan kerusakan jalan tersebut. Hingga kini masyarakat belum memperoleh kepastian mengenai waktu pelaksanaan perbaikan, sumber pendanaan, maupun langkah-langkah mitigasi yang akan dilakukan selama proses perbaikan berlangsung. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian dan semakin mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Selain itu, mahasiswa menilai pemerintah daerah dan pemerintah provinsi seharusnya menjadikan persoalan ini sebagai prioritas utama mengingat dampaknya dirasakan langsung oleh ribuan masyarakat. Infrastruktur dasar merupakan tanggung jawab pemerintah yang tidak boleh diabaikan, terlebih ketika keselamatan warga menjadi taruhannya.
Oleh karena itu, mahasiswa mendesak Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi untuk:
- Segera menetapkan penanganan kerusakan jalan Ulumanda–Salutambung sebagai prioritas darurat.
- Melakukan perbaikan sementara untuk menjamin keselamatan pengguna jalan sambil menunggu rehabilitasi permanen.
- Menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat mengenai rencana, anggaran, dan jadwal pelaksanaan perbaikan.
- Memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
- Melakukan langkah mitigasi bencana guna mencegah kerusakan yang lebih parah selama musim hujan.
Mahasiswa menegaskan bahwa kritik ini bukan semata-mata untuk menyalahkan pemerintah, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Pemerintah diharapkan segera menunjukkan tindakan nyata, karena setiap hari keterlambatan penanganan meningkatkan risiko kecelakaan, terhambatnya aktivitas masyarakat, dan kemungkinan terputusnya akses transportasi menuju Kecamatan Ulumanda.
“Masyarakat tidak membutuhkan janji, tetapi tindakan nyata. Keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, dan pemerintah wajib hadir memberikan solusi sebelum terjadi bencana yang lebih besar.” kunci Muhammad Syukur.












