MAJENE  

AMAN Majene Gagas Sekolah Adat untuk Jaga Warisan Leluhur

Sekolah Adat AMAN Majene
Sambutan Aco Bahri Mallilingan, Ketua AMAN Majene.

sorotcelebes.com | MAJENE — Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Majene kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga identitas dan warisan leluhur. Senin, (06/10/2025).

AMAN menggelar sosialisasi pembentukan sekolah adat di Kantor AMAN Majene, Desa Tinambung, Kecamatan Pamboang, Sulawesi Barat.

Acara yang dimulai dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars AMAN ini menjadi titik tolak penguatan pendidikan berbasis budaya lokal.

Ketua AMAN Majene, Aco Bahri Mallilingan, dalam sambutannya menekankan pentingnya kehadiran sekolah adat sebagai benteng terakhir masyarakat adat dalam menghadapi gempuran modernisasi.

“Sekolah ini berakar pada kehidupan masyarakat adat, memperkuat jati diri, dan mempersiapkan generasi muda untuk hidup di wilayah adat tanpa kehilangan akar budayanya,” ujar Aco Bahri.

Baca Juga  Dorong Implementasi Perda No 1 Tahun 2023, PD Aman Majene Gelar Workshop

Menurut Aco Bahri, sekolah adat akan mengajarkan pengetahuan dan kearifan lokal yang selama ini mulai memudar. Mulai dari bahasa ibu, adat-istiadat, kesenian, sistem pertanian tradisional, kuliner, hingga cara menjaga lingkungan dan sumber daya alam.

“Pendidikan adat ini bukan sekadar melestarikan budaya, tapi juga mencetak pemimpin masa depan yang berakar kuat pada nilai-nilai leluhur,” katanya.

suasana saat materi sosialisasi pembentukan sekolah Adat oleh AMAN Majene

Langkah AMAN Majene ini sejalan dengan mandat Peraturan Daerah Kabupaten Majene Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat.

Aco Bahri menilai, regulasi tersebut menjadi pijakan penting dalam perjuangan memperoleh pengakuan negara atas eksistensi masyarakat adat.

“Yang sangat kita harapkan adalah bagaimana masyarakat adat itu mendapat pengakuan dari negara melalui SK Bupati,” ucapnya.

Baca Juga  Peletakan Batu Pertama Gray Kopdes MP Desa Palipi Soreang: Menata Kemandirian Ekonomi

Saat ini, AMAN Majene menaungi 21 komunitas masyarakat adat. Dari jumlah itu, tiga komunitas telah memperoleh pengakuan resmi melalui Surat Keputusan Bupati, yakni komunitas masyarakat Adat Puttada, Limboro, dan Adolang.

“Tahun ini, kita dorong tiga komunitas lainnya, yakni: Paminggalan, Tubo, dan Sambabo agar bisa diverifikasi dan ditetapkan,” tambah Aco Bahri.

Dalam struktur AMAN, terdapat juga organisasi sayap seperti Barisan Pemuda Adat Nusantara dan Pengurus Harian Komunitas Organisasi Perempuan AMAN (PHKom). Keduanya menjadi ujung tombak penguatan kapasitas internal komunitas.

Sejak berdiri di Majene, AMAN telah membentuk lima sekolah adat. Namun, hanya tiga yang aktif hingga saat ini, yaitu: Sekolah Adat Paya Kaiyang di Desa Betteng, Sekolah Adat Adolang di Desa Banua Adolang, dan Sekolah Adat Tomatoa di Desa Adolang. Ketiga sekolah adat ini merupakan masuk dalam wilayah masyarakat adat Adolang.

Baca Juga  Optimisme dari Tanah Adat: AMAN Majene Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat BUMMA

“Sekolah adat bukan hanya ruang belajar, tapi juga ruang perlawanan kultural. Di sana, generasi muda diajarkan untuk tidak lupa dari mana mereka berasal,” ujar Aco Bahri menutup sambutannya.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan AMAN Majene dalam memastikan masyarakat adat tidak hanya dikenal lewat narasi romantik, tetapi juga melalui struktur pendidikan yang membumi dan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *