MAJENE  

Dinilai Gagal, HMI Minta Bupati Copot Kadis PPKB Kabupaten Majene

Syamsuddin, Ketua HMI Komisariat STAIN Majene.

sorotcelebes.com | MAJENE — Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STAIN Majene, Ahmad Syamsuddin meminta Bupati Majene mencopot Kepala Dinas (Kadis)
Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (PPKB).

Pasalnya, Kepala Dinas PPKB itu dinilai gagal mengelola program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) hingga nyaris menelan korban jiwa.

“Kami menilai, ini suatu kinerja yang buruk atas adanya insiden puluhan baduta yang dilarikan ke puskesmas akibat sesudah mengonsumsi pemberian makanan tambahan (PMT) alami gejala keracunan”. ujar Syamsuddin saat dikonfirmasi melalui via WhatsApp, Kamis (9/5/2024).

Baca Juga  Wentri: Korban Kekerasan Seksual Harus Berani Speak Up

Diketahui, sedikitnya 42 Balita harus mendapat perawatan medis di Puskesmas Pamboang usai mengkonsumsi makanan tambahan berupa bubur yang dibagikan dalam kegiatan Launching PMT Bagi Keluarga Beresiko Stunting yang digelar di pelataran Kantor Kecamatan Pamboang, Senin 6 Mei 2024 pagi, lantaran mengalami gejala keracunan seperti mual dan muntah.

Menurutnya, Bupati tidak boleh diam melihat kejadian yang membahayakan nyawa seseorang. Apalagi, pihaknya mendengar bahwa anggaran yang gelontorkan untuk kegiatan itu sangat fantastis.

“Tidak wajar ketika insiden itu terjadi, pasti dari segala tekhnisnya diteliti dan memilih bahan yang berkualitas”. ungkapnya.

Baca Juga  HMI Ancam Demo Bawaslu Majene Terkait OTT Dugaan Money Politic

Dilansir dari sulbar.tribunnews.com, Bakteri Escherichia Coli atau E Coli ditemukan pada bubur menyebabkan puluhan balita dan anak di Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, keracunan massal.

Hal tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan sampel dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju.

Kepala BPOM Mamuju Suliyanto menjelaskan perihal ditemukan adanya bakteri E Coli pada bubur yang menyebabkan balita dan anak di Majene keracunan massal.

“Sampel yang dikirim itu sudah lewat dari satu hari dan setelah masuk ke lab sampel itu agak basi, sehingga saat dilakukan uji lab ada kandungan E Coli (bakteri),” kata Suliyanto. Rabu (8/5/2024).

Baca Juga  Rekomendasi Penggunaan Stadion Prasamya Majene Untuk Hoya-Hoya Labrak Regulasi

Namun Suliyanto, tidak dapat menyimpulkan apakah bubur tersebut sudah mengandung E Coli sejak awal dikonsumsi oleh balita atau tidak.

Karena, sampel makanan yang dikirim itu terlambat masuk lab sehingga pada saat diuji sudah dalam kondisi sedikit basi.

“Kami belum bisa simpulkan apakah memang makanan itu sudah mengandung E Coli, sampel dikirim itu kondisinya sudah tidak fresh lagi,” bebernya.

Pihaknya masih mendalami terkait makanan yang sudah diuji laboratorium tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *