sorotcelebes.com | MAMASA — Janji Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa untuk menuntaskan pembangunan SDN 003 Maerang pada April berujung tanda tanya. Hingga pertengahan bulan, proyek rehabilitasi ruang kelas yang telah dianggarkan sejak 2024 itu belum juga rampung.
Aliansi Perjuangan Mahasiswa Mamasa (APMM) menilai keterlambatan ini bukan sekadar persoalan teknis. Mereka menyebutnya sebagai bentuk kelalaian serius pemerintah daerah dalam memenuhi hak dasar masyarakat di sektor pendidikan.
“Ini bukan sekadar janji yang dilanggar, tetapi menyangkut masa depan pendidikan anak-anak di Mamasa. Kami tidak akan tinggal diam,” kata Muh. Nabir, perwakilan APMM, dalam keterangannya. Kamis, (16/04/2026).
Sebelumnya, dalam audiensi dengan massa aksi, pihak Dinas Pendidikan menyatakan komitmen menyelesaikan pembangunan paling lambat April. Namun, hingga kini tidak ada kepastian progres di lapangan. Bangunan sekolah masih dalam kondisi belum tuntas, sementara aktivitas belajar mengajar tetap berjalan dalam keterbatasan.
APMM menyoroti minimnya transparansi dari Dinas Pendidikan. Tidak ada penjelasan terbuka mengenai perkembangan proyek, termasuk kendala yang dihadapi. Kondisi ini memicu kecurigaan publik, mulai dari dugaan ketidaksungguhan hingga potensi pembiaran proyek.
Di sisi lain, siswa dan tenaga pengajar menjadi pihak yang paling terdampak. Ketidakjelasan penyelesaian pembangunan membuat proses belajar berlangsung dalam situasi yang tidak ideal.
Berdasarkan data yang dihimpun, Pemerintah Kabupaten Mamasa telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp180 juta untuk rehabilitasi sedang hingga berat ruang kelas SDN 003 Maerang pada 2024. Anggaran tersebut bersumber dari APBD melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, hingga kini proyek itu belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
APMM pun mengeluarkan ultimatum. Mereka mendesak Dinas Pendidikan segera menuntaskan pembangunan sesuai komitmen, sekaligus bertanggung jawab atas keterlambatan yang terjadi. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret, APMM mengancam akan kembali turun ke jalan dengan skala aksi yang lebih besar.
“Perjuangan ini akan terus kami kawal sampai ada realisasi nyata, bukan sekadar janji yang berulang tanpa bukti,” ujar Nabir.













