sorotcelebes.com | MAJENE — Suara klik mouse bersahutan dengan bisik antusias para guru di Ruang Pola Kantor Bupati Majene, Sabtu, 6 September 2025. Sebanyak 65 pendidik dari berbagai sekolah di Kabupaten Majene larut dalam sesi pelatihan bertajuk Kelas Kecerdasan Artifisial, hasil kolaborasi Ikatan Guru Indonesia (IGI) Majene dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Sulawesi Barat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Artificial Intelligence Goes to School (AIGTS)—sebuah inisiatif edukatif berbasis teknologi untuk mendampingi 10.000 guru di 40 kota selama 18 bulan. Dukungan datang dari Google.org, AVPN, hingga Asian Development Bank (ADB), sebagai bagian dari dorongan kolaboratif menjawab tantangan dunia pendidikan di era kecerdasan buatan.
Wakil Bupati Majene, Andi Ritamariani Basharoe, membuka kelas ini secara resmi. Ia menyambut hangat inisiatif yang tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga memperkuat daya kritis terhadap banjir informasi dan hoaks di ruang digital.
“Ada hal yang sangat menarik, bagaimana dengan kegiatan ini, guru bisa jadi agen penangkal hoaks di kelas. Ini bagian dari upaya menjadikan Majene sebagai kota pendidikan,” ujar Ritamariani.
Kepala SMP Negeri 8 Satap Sendana, Hariani, salah satu peserta pelatihan, mengaku semula awam terhadap AI. Namun, usai mengikuti sesi demi sesi yang dipandu pemateri dari Mafindo Institute, pemahamannya menguat.
“Awalnya saya masih abu-abu. Tapi sekarang bisa membedakan mana tools yang membantu, mana yang harus disikapi dengan bijak. Sangat bermanfaat dan aplikatif,” ujarnya.
Koordinator Wilayah Mafindo Sulbar, Dedy Aswan, menyebut kelas ini dirancang untuk meningkatkan literasi digital para guru. Mereka tidak hanya dikenalkan pada tools AI untuk pembelajaran, tetapi juga pada aspek konseptual seperti etika, tantangan, dan risiko penggunaan AI di lingkungan pendidikan.
“Setelah kegiatan ini, peserta diharapkan bisa memanfaatkan AI untuk mendesain pembelajaran, mengelola kelas, dan menyusun administrasi secara efisien,” jelas Dedy.
Senada, Kepala Sekolah Mafindo Institute, Dimas Fadhilah Aprilian Santosa, menekankan pentingnya tidak sekadar memahami manfaat AI, tetapi juga menimbang sisi kritisnya.
“Kami tidak ingin guru hanya bisa memakai tools. Mereka harus paham apa itu AI, bagaimana cara kerjanya, serta implikasi etisnya.” ucapnya.
Ketua IGI Majene, Idham Sirunna, menyebut pelatihan ini sebagai upaya menyandingkan peran guru dengan teknologi, bukan menggantikannya.
“AI tidak akan pernah bisa menggantikan guru. Mesin tidak punya perasaan. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga pembentukan akhlak dan adab—itu hanya bisa dari guru,” tegasnya.
Mafindo: Dari Anti-Hoaks hingga Literasi Digital
Sejak berdiri pada 2016, MAFINDO aktif dalam melawan misinformasi di Indonesia. Dengan lebih dari 95.000 anggota daring dan 1.000 relawan, organisasi ini telah berevolusi dari sekadar komunitas cek fakta menjadi motor penggerak literasi digital nasional.
Lewat program AI Goes to School, Mafindo membidik ruang kelas sebagai garda depan menghadapi gelombang informasi digital. Guru diposisikan bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga fasilitator literasi digital yang tangguh.
Catatan Redaksi:
Inisiatif semacam ini menjadi penting di tengah arus deras informasi yang kerap tak tersaring. Ketika AI masuk ke ruang kelas, guru tak boleh hanya jadi penonton. Mereka perlu menjadi nakhoda, mengemudikan arah pembelajaran berbasis teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pendidikan.











