sorotcelebes.com | MAJENE — Pemerintah Desa (Pemdes) Adolang Dhua, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, mulai memperkuat langkah pelestarian sekaligus pengembangan komoditas lokal Loka Pere lewat program sosialisasi dan kegiatan penanaman massal yang digelar berkolaborasi dengan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Jumat, (28/11/2025).
Upaya ini digadang-gadang sebagai fondasi bagi produk unggulan desa yang berkelanjutan.
Kepala Desa Adolang Dhua, Burhanuddin, S.Pd., mengatakan bahwa loka pere telah lama menjadi identitas desa.
Karena itu, menurut dia, sudah sewajarnya komoditas tersebut dikelola secara serius agar tidak sekadar menjadi ikon, tetapi juga bernilai ekonomi dan kesehatan bagi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah desa mewajibkan setiap kepala keluarga (KK) yang berprofesi sebagai petani untuk menanam sedikitnya sepuluh pohon Loka Pere.
Kebijakan ini dinilai penting untuk memastikan ketersediaan tanaman tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan dan minat masyarakat terhadap komoditas tersebut.
“Untuk menjaga kelestarian serta menjaga ketersediaan Loka Pere di desa kami, maka kami wajibkan semua KK yang petani wajib tanam Loka Pere minimal 10 pohon per KK,” ujar Burhanuddin.

Aturan ini juga menyasar warga nonpetani yang memiliki pekarangan rumah, agar turut menanam di halaman masing-masing.
Saat ini program penanaman mulai menunjukkan hasil. Sebagian warga telah menanam 300 pohon, 100, hingga 200 pohon di lahan masing-masing. Jika dijumlahkan, tahun ini Loka Pere yang sudah tertanam mencapai sekitar 1.500 pohon.
Capaian tersebut disebut sebagai modal penting bagi keberlanjutan produksi di masa mendatang.
Burhanuddin menambahkan bahwa Pemdes Adolang Dhua juga menatap pengembangan Loka Pere dari sisi kesehatan. Salah satu rencana strategisnya adalah menjadikannya sebagai bahan makanan bayi.
Menurut dia, kandungan nutrisi komoditas tersebut sangat menjanjikan.
“Kami juga pemerintah desa Adolang Dhua akan menjadikan loka pere sebagai makanan bayi,” ungkapnya.
Langkah ini didorong oleh temuan bahwa tanaman lokal tersebut memiliki kandungan gizi yang jauh lebih tinggi dibanding berbagai buah lain yang umum dikonsumsi.
Menurut Burhanuddin, Loka Pere mengandung nutrisi hingga tujuh kali lipat dari buah-buahan pada umumnya, terutama kandungan kalium yang sangat tinggi.
Kandungan ini dinilai penting bagi pertumbuhan tulang bayi dan anak sehingga menjadikannya kandidat ideal sebagai makanan pendamping yang alami dan sehat.
Rencana diversifikasi produk itu juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi kelompok tani dan UMKM desa.
Jika produk turunan Loka Pere berhasil dikembangkan, Adolang Dhua berpotensi memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Selain aspek ekonomi dan kesehatan, program penanaman masif ini menjadi upaya konservasi yang dianggap penting. Pasalnya, keberadaan tanaman lokal sering terancam oleh perubahan pola tanam dan alih fungsi lahan. Dengan adanya aturan desa, keberlanjutan loka pere diyakini lebih terjaga.
Kerja sama dengan Unsulbar juga dipandang strategis karena membuka peluang penelitian, pendampingan teknologi, dan pemanfaatan pengetahuan akademik untuk memperkuat budidaya dan pengolahan produk.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan antara kebutuhan desa dan inovasi perguruan tinggi.
Di ujung pernyataannya, Burhanuddin menyampaikan harapan para petani agar nilai ekonomi Loka Pere turut meningkat seiring kualitasnya yang dianggap istimewa.
“Harapan para petani, semoga harga Loka Pere yang istimewa bisa juga harganya istimewa,” ujarnya.
Dengan langkah-langkah awal yang sudah ditempuh, Pemdes Adolang Dhua kini berharap program ini menjadi fondasi yang kuat bagi kemajuan desa. Jika berhasil, Loka Pere bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga sumber kesejahteraan bagi masyarakat.













