sorotcelebes.com | MAJENE — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) Cabang Majene menggelar unjuk rasa di Kantor Bupati Majene, Sulawesi Barat. Rabu, 19 Agustus 2026.
Mereka mendesak pemerintah daerah membenahi tata kelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mandar Majene.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aksi tersebut menyampaikan sejumlah tuntutan, mulai dari audit terhadap PDAM Tirta Mandar hingga pengangkatan direktur definitif perusahaan daerah itu.
Aksi berlangsung di tengah kekecewaan mahasiswa karena Bupati Majene maupun pejabat pemerintah daerah disebut tidak menemui massa untuk berdialog. Sebagai bentuk luapan kekecewaan, massa aksi membakar ban di sekitar lokasi demonstrasi.
Ma’ruf, salah seorang peserta aksi, mengatakan PMII Komisariat Unsulbar membawa sejumlah isu yang dinilai mendesak untuk segera ditindaklanjuti pemerintah daerah.
“Hari ini kami dari PMII Komisariat Unsulbar Cabang Majene melaksanakan aksi unjuk rasa di kantor daerah dengan beberapa tuntutan,” kata Ma’ruf dalam aksi tersebut.
Ada empat tuntutan utama yang disampaikan mahasiswa. Pertama, meminta dilakukan audit terhadap PDAM Tirta Mandar Majene. Kedua, mendesak pemerintah segera melantik direktur definitif PDAM Majene.
Ketiga, PMII meminta dugaan kerugian yang terjadi di tubuh PDAM Majene diusut secara tuntas. Keempat, mahasiswa mendesak pemerintah daerah mewujudkan pengelolaan dana PDAM yang transparan dan akuntabel.
Menurut Ma’ruf, ketidakhadiran Bupati Majene untuk menemui massa menjadi salah satu alasan kekecewaan mahasiswa. Mereka menilai tuntutan yang disampaikan semestinya mendapat ruang dialog dari pemerintah daerah.
“Dengan isu tersebut kami kecewa terhadap Bupati Majene yang tidak menemui kami sebagai massa unjuk rasa,” ujar Ma’ruf.
PMII kemudian memberikan batas waktu kepada pemerintah daerah untuk merespons tuntutan tersebut. Jika tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti, mahasiswa mengancam kembali menggelar aksi dengan jumlah massa dan tekanan yang lebih besar.
“Kami akan kembali melaksanakan aksi unjuk rasa jilid dua dalam waktu 2 kali 24 jam jika tuntutan kami tidak diindahkan,” tegas Ma’ruf.
Tuntutan audit dan transparansi pengelolaan keuangan PDAM menjadi sorotan utama mahasiswa. Mereka meminta pemerintah daerah membuka ruang pemeriksaan dan memberikan penjelasan mengenai pengelolaan perusahaan daerah tersebut kepada publik.
Hingga aksi berakhir, belum ada penjelasan dari Bupati Majene mengenai alasan tidak menemui massa aksi maupun tanggapan resmi pemerintah daerah terhadap empat tuntutan yang disampaikan PMII.
Sikap pemerintah daerah dalam merespons tuntutan tersebut kini menjadi perhatian mahasiswa.
PMII Komisariat Unsulbar Cabang Majene menutup pernyataan sikapnya dengan menegaskan komitmen untuk mengawal persoalan PDAM Tirta Mandar Majene.
“Ilmu dan bakti kuberikan, adil dan makmur kuperjuangkan,” demikian pernyataan sikap massa aksi.












