Oleh : Mursyid Syukri
sorotcelebes.com | MAJENE — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei sejatinya bukan hanya tentang seragam upacara, pidato resmi, dan barisan penghormatan. Hari itu lahir dari sejarah panjang penderitaan rakyat, perjuangan para pejuang, dan kebangkitan kesadaran bangsa untuk melawan penjajahan. Kebangkitan Nasional bukan sekadar agenda tahunan pemerintah, tetapi momentum untuk mengingat bahwa Indonesia berdiri di atas pengorbanan manusia-manusia yang rela kehilangan hidup demi masa depan generasi hari ini.
Di berbagai daerah, termasuk di Majene, peringatan Hari Kebangkitan Nasional dilaksanakan dengan penuh khidmat oleh pemerintah daerah, kecamatan, hingga berbagai instansi. Upacara yang berlangsung di Lapangan Rumah Jabatan Bupati Majene bersama unsur pemerintah dan Tripika Kabupaten menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa. Namun lebih dari sekadar seremoni, momentum ini juga dapat menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Makna “bangkit” tidak lahir begitu saja dari podium-podium pemerintahan. Bangkit berasal dari manusia-manusia yang berjuang dengan darah, air mata, dan keberanian. Negara ini tidak tiba-tiba merdeka karena administrasi dan birokrasi, melainkan karena ada para pejuang yang mewakafkan dirinya untuk tanah air. Ironinya, semangat itu perlahan mulai bergeser. Hari Kebangkitan Nasional sering kali hanya menjadi kegiatan formalitas tahunan tanpa usaha sungguh-sungguh untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah masyarakat terhadap tokoh-tokoh perjuangan daerahnya sendiri.
Di tanah Mandar, khususnya Majene, ironi itu terasa sangat nyata. Daerah yang dikenal sebagai kota pendidikan justru perlahan melupakan tokoh-tokoh pendidik dan pejuangnya sendiri. Salah satu sosok besar yang seharusnya menjadi bagian penting dalam narasi kebangkitan daerah adalah Maemuna Djud Pantje. Beliau bukan hanya seorang guru dan kepala sekolah, tetapi juga perempuan pejuang dari Mandar yang menjadi Panglima Perang GAPRI 5.3.1. Sosok yang lahir pada tahun 1916 dan wafat pada tahun 1995 itu adalah bukti bahwa perempuan Mandar memiliki keberanian besar dalam mempertahankan bangsa dan daerahnya.
Sayangnya, nama sebesar itu mulai jarang disebut dalam ruang-ruang pendidikan maupun seremoni pemerintahan. Generasi muda Majene perlahan tumbuh tanpa mengenal siapa pejuang dari tanah mereka sendiri. Jika sejarah lokal tidak diikat dalam ingatan generasi hari ini, maka suatu saat anak-anak daerah akan lebih mengenal tokoh dari luar dibandingkan pejuang yang lahir dan berjuang di tanahnya sendiri.
Padahal secara teoritis, kebangkitan nasional tidak hanya bermakna bangkitnya negara secara simbolik, tetapi bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas, sejarah, dan penghormatan kepada perjuangan masa lalu. Dalam perspektif sosiologi sejarah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga memori kolektifnya. Ketika sejarah lokal diabaikan, maka identitas generasi ikut melemah. Pemerintah seharusnya memahami bahwa penghormatan kepada pahlawan bukan cukup hanya dengan upacara, tetapi dengan menghadirkan kembali nilai perjuangan mereka dalam pendidikan, budaya, dan ruang publik.
Mestinya, pada momentum Hari Kebangkitan Nasional, Pemerintah Daerah Majene mengambil peran besar untuk mengenalkan kembali tokoh-tokoh perjuangan Mandar kepada generasi muda. Nama Maemuna Djud Pantje seharusnya menjadi bagian penting dalam kegiatan pendidikan, seminar sejarah, lomba literasi, hingga penguatan identitas daerah. Sebab kebangkitan yang sesungguhnya bukan hanya berdiri tegak saat upacara berlangsung, tetapi bagaimana bangsa ini mampu membangkitkan kembali ingatan terhadap jasa para pahlawannya.
Hari Kebangkitan Nasional akan kehilangan makna apabila pemerintah hanya sibuk merayakan seremoni tanpa menghadirkan roh perjuangan di dalamnya. Sebab bangsa yang melupakan sejarah perjuangannya sendiri perlahan akan kehilangan arah kebangkitannya. Dan Majene, sebagai tanah para pejuang dan kota pendidikan, seharusnya menjadi pelopor dalam menjaga ingatan sejarah itu, bukan justru ikut membiarkannya tenggelam dalam lupa.












