sorotcelebes.com | MAJENE — Sejarah baru ditorehkan dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) Cabang Majene. Dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XV yang digelar di Aula KNPI pada Jumat, 3 Oktober 2025, Ayunda Hazrah, demisioner Korps HMI-Wati (KOHATI) MPO, terpilih sebagai Formatur Ketua Umum. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin cabang ini sejak didirikannya.
Pemilihan Hazrah tak hanya menandai transisi kepemimpinan, melainkan juga pergeseran paradigma. Di organisasi yang kerap didominasi laki-laki, terpilihnya sosok perempuan sebagai nahkoda utama adalah pesan politik yang tak bisa diabaikan. Ia adalah simbol dari kesetaraan yang perlahan namun pasti mengakar di tubuh HMI MPO Cabang Majene.
Dalam sesi pemilihan yang berlangsung dinamis, Hazrah unggul dari kandidat lainnya melalui proses musyawarah mufakat. Kepemimpinan dan dedikasinya selama menjabat di KOHATI menjadi pertimbangan kuat para kader. Ia tidak hanya paham organisasi, tapi juga membawa visi yang jelas.
Langkah Hazrah memimpin cabang ini bukan tanpa tantangan. Dalam tradisi panjang HMI MPO Cabang Majene, perempuan kerap berada di garda pendukung, bukan sebagai penentu arah. Namun narasi itu mulai luntur.
“Ini bukan hanya soal jabatan, ini tentang mengubah cara berpikir bahwa perempuan juga layak memimpin,” ujar Hazrah dalam pidato singkat usai terpilih.
Perempuan berhijab itu menegaskan, bahwa keterlibatannya bukan bentuk kompromi identitas, melainkan aktualisasi kapasitas.
“Saya ingin ini menjadi contoh kepada mereka, kepada para perempuan muda lainnya, bahwa kita juga punya hak yang setara, dalam pendidikan, politik, bahkan dalam memimpin,” tegasnya.
Fenomena ini mencerminkan gerakan yang lebih luas di kalangan organisasi mahasiswa. Di banyak cabang HMI MPO di Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran perempuan mulai tumbuh. Namun, jalan menuju kesetaraan masih panjang. Tak jarang, perempuan yang mencalonkan diri mengalami resistensi kultural dari dalam organisasi sendiri.
Namun Hazrah memilih tidak gentar. Ia menyatakan akan menjadikan masa kepemimpinannya sebagai ruang inklusi dan pembelajaran.
“Kita akan membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal jenis kelamin, tapi soal komitmen, kerja keras, dan integritas,” katanya.
Dukungan terhadap Hazrah pun datang dari berbagai elemen, termasuk alumni HMI MPO Cabang Majene. Keputusan forum ini adalah cerminan kematangan kader. Ini bukti bahwa organisasi berkembang. Perempuan sudah saatnya berada di posisi strategis, bukan hanya pelengkap struktur.
Jalannya Konfercab sendiri berlangsung relatif kondusif meski penuh dinamika khas forum mahasiswa. Perdebatan, lobi, dan kompromi berjalan maraton sejak berlangsungnya kegiatan itu. Namun pada akhirnya, suara forum bulat mengamanahkan Ayunda Hazrah sebagai formatur ketua umum.
Majene, kabupaten yang berada di pesisir barat Sulawesi Barat, menjadi saksi babak baru gerakan mahasiswa Islam. Kabupaten yang dinobatkan kota pendidikan itu, kini mencatat satu lagi sejarah progresif dalam dunia organisasi mahasiswa, lahirnya pemimpin perempuan dari rahim HMI MPO.
Hazrah kini mengemban tugas tak ringan. Selain merawat idealisme organisasi, ia juga membawa beban ekspektasi dari banyak pihak, khususnya dari kalangan perempuan muda. Tapi dengan ketenangan dan keberanian yang ia tunjukkan, tampaknya Majene bisa berharap lebih pada generasi baru HMI MPO.
“Ini bukan akhir perjuangan. Ini justru awal dari cerita panjang tentang perempuan yang berani memimpin, melawan stigma, dan membuktikan kemampuannya,” kunci Hazrah di akhir pidatonya.













