DAERAH  

Lestarikan Budaya, BPK Sulteng-Sulbar dan Disbudpar Majene Gelar Workshop Sayang-Sayang

Foto bersama disela acara pembukaan Workshop dan Pagelaran Sayang-Sayang 2024 di Cafe Olang Mesa, Majene. Jumat (24/05/2024).

sorotcelebes.com | MAJENE — Pelestarian Budaya adalah upaya untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, luwes, dan selektif, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang.

Salah satu kekayaan budaya Nusantara yang ada di Tanah Mandar adalah Sayang-Sayang patut dilestarikan. Sayang-Sayang merupakan kesenian asli masyarakat Mandar dengan karakter dan keunikan tersendiri, liriknya mirip dengan kalindaqdaq atau yang biasa disebut puisi Mandar.

Umumnya, sayang-sayang dinyanyikan oleh sepasang pa’elong (penyanyi) yang terdiri dari laki-laki dan wanita yang saling berbalas syair ketika melantunkan syair dan tetap mempertahankan ciri khas dan nilai-nilai yang terkandung di dalam syairnya. Lagu Sayang-sayang berkisah tentang perjuangan, nasihat, nilai keagamaan, romansa dan motivasi.

Dulu, Sayang-sayang biasanya dipertunjukkan pada saat acara pagelaran budaya, nikahan, hajatan, pattamma’ (khatam Qur’an), mallatigi, dan acara lainnya.

Baca Juga  Kegiatan Missulekka Akan Digelar Setiap Bulan

Hanya saja, pertunjukkan Sayang-sayang sangat jarang dijumpai saat ini. Hal itu disebabkan perkembangan teknologi dan gempuran modernisasi (lagu moderen) kian melejit ditengah masyarakat sehingga lagu Sayang-sayang kurang diminati generasi sekarang.

Karena itu, pelestarian Sayang-sayang menjadi tanggungjawab bersama khususnya bagi masyarakat Mandar. Intervensi pemerintah menjadi salah satu alternatif terbaik untuk melestarikan budaya Nusantara yang nyaris punah seperti Sayang-sayang Mandar.

Seperti yang dilakukan BPK Wilayah XVIII Sulteng-Sulbar bekerja sama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Majene, telah menggelar “Workshop dan Pagelaran Sayang-Sayang 2024” di Cafe Olang Mesa, Majene. Jumat (24/05/2024).

Acara EKSPLORASI NADA ETNIK NUSTANTARA yang mengangkat tema “Merajut Harmoni Sayang-sayang di Bumi Assamalewuang” merupakan wujud pelestarian budaya Mandar di Majene.

Baca Juga  Cegah Kecurangan, Polda Sulbar Lakukan Pengecekan SPBU

Pembukaan acara diawali dengan sambutan dari Kepala BPK Wilayah XVIII Sulteng-Sulbar, Andi Rijal. Dalam sambutannya, Ia mengungkapkan rasa bangganya atas terselenggaranya acara ini dan menekankan pentingnya melestarikan musik tradisional.

“Acara ini adalah bentuk komitmen kami untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Sayang-Sayang, sekaligus mengajak generasi muda untuk lebih mencintai dan memahami kekayaan budaya Nusantara,” ujarnya.

Sementara ditempat yang sama, Kepala Disbudpar Majene, Ahmad Djamaan, mengapresiasi dan mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, Workshop ini merupakan upaya konkret menjaga warisan budaya karena Sayang-Sayang adalah identitas Mandar.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena merupakan upaya konkret dalam menjaga warisan budaya kita. Musik tradisional Sayang-Sayang adalah bagian penting dari identitas kita, dan melalui acara ini, kami berharap bisa menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal,” ucapnya.

Baca Juga  Akmal Malik Rapat Virtual Bareng Mendagri, Bahas Pengendalian Inflasi

Workshop dan Pagelaran Sayang-Sayang 2024 ini melibatkan siswa-siswi SMA dari Polewali Mandar dan Kabupaten Majene sebagai peserta. Mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan, dimulai dengan Workshop Musik Tradisi Sayang-Sayang yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam memainkan musik tradisional tersebut.

Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengeksplorasi dan melestarikan kekayaan budaya Nusantara. Pembukaan acara ini menjadi awal yang baik untuk rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari ke depan, dengan berbagai penampilan dan sesi edukatif yang telah dipersiapkan oleh panitia.

Dengan pembukaan yang meriah dan penuh semangat, Workshop dan Pagelaran Sayang-Sayang 2024 diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya musik tradisional di Kabupaten Majene.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *