OPINI  

Sulbar 21 Tahun: Dari Takbir di Masjid Raya hingga Janji Panca Daya

Oleh : Arifuddin Samual

sorotcelebes.com | MAJENE — Rabu, 22 September 2004. Langit Majene perlahan meredup, tanda magrib segera tiba. Di tengah suasana senja itu, samar-samar terdengar kabar berhembus: Sulawesi Barat akhirnya disahkan di Senayan.

Kami, yang tergabung dalam Forum Kota Tua, rasa ingin percaya bergulat dengan keraguan. Segera telepon kami arahkan ke Jakarta, menghubungi Bupati Majene kala itu, almarhum Muh. Darwis. Dengan suara tegas bercampur haru beliau menjawab, “Alhamdulillah, iya, Sulbar sudah jadi.”

Kabar itu bagai cahaya terang yang memecah senja, membawa sukacita yang sulit digambarkan. Kami langsung meminta beliau menyampaikan informasi bersejarah ini secara langsung kepada masyarakat melalui sambungan telepon ke Masjid Raya Majene. Dan kurang dari lima menit sebelum adzan magrib, suara itu benar-benar bergema. Imam masjid, almarhum H. Syauqaddin Gani, menyampaikan berita itu kepada jamaah. Takbir pun meledak di udara. Orang-orang sujud syukur. Air mata haru tumpah. Doa-doa yang puluhan tahun dipanjatkan akhirnya diijabah.

Baca Juga  Mampukah UU Perampasan Aset Mencegah Korupsi?

Kami yang awalnya hanya tiga motor berboncengan menuju masjid, tiba-tiba menjelma menjadi ratusan motor yang memadati jalanan kota. Seperti arus tak terbendung, konvoi itu berkeliling Majene membawa kabar bahagia. Orang keluar rumah, menyapa, bertanya, menangis, dan bersorak. Malam itu, Sulawesi Barat tidak lagi hanya mimpi. Ia telah menjadi kenyataan.

Hari ini, 22 September 2025, genap 21 tahun usia Sulawesi Barat. Bukan usia yang muda, tapi juga belum terlalu tua. Usia yang sering disebut sebagai pintu kedewasaan: penuh tenaga, penuh semangat, tetapi juga dituntut bijaksana.

Tema perayaan tahun ini, “Sulbar Maju dan Sejahtera”, bukanlah slogan hampa. Ia adalah janji. Janji bahwa Sulawesi Barat harus tumbuh tidak hanya dalam angka-angka statistik, tapi juga dalam wajah manusia-manusianya. Bahwa pembangunan bukan cuma gedung-gedung tinggi, melainkan jalan desa yang lebih layak dilalui. Bahwa kemajuan tidak bisa hanya diukur dengan grafik ekonomi, melainkan dengan tawa anak-anak yang bisa sekolah tanpa harus jauh meninggalkan kampungnya.

Baca Juga  Kerusakan Lingkungan Buah Kerakusan Pengelolaan SDA oleh Asing

Di titik inilah Panca Daya hadir, bukan hanya sebagai rumusan teknokratis, melainkan sebagai janji moral:

  1. Daya Tumbuh – pertumbuhan ekonomi inklusif yang merata, agar daerah pesisir hingga pegunungan merasakan hasil pembangunan.
  2. Daya Hidup – pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial, agar tak ada lagi warga yang tertinggal dari hak-hak dasarnya.
  3. Daya Cerdas – kualitas pendidikan, kesehatan, dan keterampilan yang membuka masa depan generasi muda.
  4. Daya Lestari – infrastruktur yang dibangun tanpa mengorbankan alam, menjaga hutan, sungai, dan laut untuk anak cucu.
  5. Daya Tegak – pemerintahan yang jujur, transparan, dan berpihak pada rakyat, bukan hanya pada kepentingan sesaat.

Inilah penuntun kita melangkah. Karena Sulawesi Barat tidak akan maju hanya karena proyek besar di ibukota provinsi. Ia akan maju ketika petani di Bonehau bisa menjual hasil panennya dengan harga adil. Ia akan sejahtera ketika nelayan di Pangali-Ali tidak lagi dihantui harga solar. Ia akan benar-benar berdiri tegak ketika guru di Rantebulahan bisa mengajar dengan fasilitas yang layak, dan tenaga medis di Sarudu punya akses obat yang cukup.

Baca Juga  Mithhar Bantah Issue Pelantikannya Sebagai Kadisdikpora Provinsi Sulbar

Sulawesi Barat adalah cerita kita bersama. Bukan milik segelintir orang, bukan juga monopoli satu generasi. Ia lahir dari doa yang dikumandangkan dari pelosok desa, dari tetesan keringat para pejuang, dan dari kerinduan masyarakat yang ingin masa depan lebih dekat dengan anak-anaknya.

Hari jadi yang ke-21 ini seharusnya menjadi pengingat. Bahwa yang kita rayakan bukan hanya bertambahnya usia administratif, tetapi sebuah perjalanan panjang yang lahir dari air mata, perjuangan, dan cinta.

Maka mari jadikan momentum ini sebagai ajakan untuk kembali bersatu. Karena Sulbar hanya akan tumbuh kuat bila kita merawatnya dengan persatuan dan ketulusan.

Selamat Hari Jadi ke-21 Provinsi Sulawesi Barat.
Bersatu, berdaya, dan berjaya menuju Sulbar Maju dan Sejahtera.

Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *